Malam itu, entah malam yang keberapa kubiarkan mataku berjaga. Menahan kantuk, menuliskan sepatah dua patah kata, yang mungkin sebenarnya tak cukup bagus.
“ Apa yang kau inginkan Fa?. Untuk apa begadang dan berkutat dengan komputer itu?. Jaga kesehatanmu, nak!” tegur Ibuku
Aku hanya mengangguk dan mengulum senyum. Aku lebih memilih diam saja. Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan padanya bahwa aku menemukan banyak sekali perubahan positif dalam diriku sejak keinginan untuk menulis kembali muncul_setelah sekian tahun mati suri. Aku belum bisa membuatnya faham bahwa ini memanglah impianku sedari dulu.
Menulis, meramu kata, mencipta sebuah kisah fiksi, membuatku merasa lebih berdaya. Setidaknya, aku bisa menuangkan ide dan meluruhkan semua beban hatiku dengan menuangkannya kedalam tulisan. Kuyakin orang yang tak memiliki impian sama tak kan bisa merasakan dampak postif dari menulis itu sendiri. Itu terbukti dengan adanya beberapa komentar orang-orang di sekelilngku saat mendapatiku sedang menulis.
“Untuk apa berlama-lama di depan komputer? Untuk menulis?, apa yang kau
tulis? Apa yang nanti bisa kau peroleh dari itu.? Uang, Seberapa besarkah? Apa itu sebanding dengan usahamu? Apa itu tidak akan sia-sia? “ deretan tanya yang tak ku jawab.
Untuk kesekian
kali aku kembali tersenyum saja menanggapinya. Bisakah untuk tidak berpikir pragmatis dan
mengukur segala sesuatu dari materi saja?. :)
Aku ingin membangun passion yang
lain dalam diriku. Aku ingin mencoba dan menekuri sebuah aktivitas yang
berbeda. Jika dulu, setelah lulus Madrasah Aliyah aku lebih memilih untuk belajar berdagang di
Jakarta, itulah pilihan. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang
kudapat dari sana. Dan ketika aku pulang ke Pulau Garam, lalu tak ingin kembali lagi ke kota metropolitan dan memilih
untuk stay at home, ini juga pilihan.
Dan pilihanku yang kedua bukanlah tanpa resiko. Ada tanya yang kerap kudapati.
Kenapa pulang? bukankah Jakarta dan
posisimu sudah sangat menjanjikan untuk mencapai kesuksesan?, Kau tinggal
menunggu waktu saja dan menerapkan pengetahuan yang kau dapat dengan membangun
usaha baru sendiri? Tidakkah kau menyayangkannya?
Ok. Aku tahu itu :)
Kini, aku memiliki jundi yang tidak bisa kutinggal selalu. Dia butuh
cinta, butuh kasih sayang. Tidak adil
rasanya meninggalkan dia dalam waktu yang lama atas nama untuk materi. Meteri
penting, tapi jika kemudian perpisahanku dengannya memenyebabkan hatinya tidak
bahagia dan dia kurang kasih sayang
seorang ibu, itu akan membuatku merasa sangat bersalah..
Dia, anakku, adalah
harta termahal yang Allah berikan padaku. Tidak semua orang bisa mendapat anugerah itu dari
Sang Maha Pencipta. Dia juga merupakan amanah yang harus kuemban . Untuk itu, aku
harus bisa menyeimbangkan diri, antara pekerjaan dan tanggung jawab seorang Ayah sekaligus Ibu. Aku ingin tetap
menulis, apapun yang menjadi komentar mereka. Aku akan tetap dengan mimpiku,
seberapa beratpun rintangan yang akan ku hadapi.
So, tetap tenang,
tetap semangat, tetap bertahan…. ! Yakinkan diri, garis sukses di jalur ini, suatu hari nanti akan bisa
dilewati. Insya Allah…!
tulisnya bgus.....!
BalasHapusmn klnjutanyya....?
layakkah dibilang bagus? ;)
Hapusmudah-mudahan bisa ngelanjutin dalam waktu dekat..
penilaian itu bkn dri qt sndiri tp hrus mnurut orng lain...
BalasHapusteruslah berkarya...
makasih supportnya... :)
BalasHapus