Kamis, 28 Juni 2012

BIARKAN AKU DENGAN MIMPIKU


Malam itu, entah malam yang keberapa kubiarkan mataku berjaga. Menahan kantuk, menuliskan sepatah dua patah kata, yang mungkin sebenarnya tak cukup bagus.


“ Apa yang kau inginkan Fa?. Untuk apa begadang dan berkutat dengan komputer itu?. Jaga kesehatanmu, nak!” tegur  Ibuku


Aku hanya mengangguk dan mengulum senyum. Aku lebih memilih diam saja. Aku tidak tahu harus  memulai dari mana untuk menjelaskan padanya bahwa aku menemukan banyak sekali perubahan positif dalam diriku sejak keinginan untuk menulis kembali muncul_setelah sekian tahun mati suri. Aku belum bisa membuatnya  faham bahwa ini memanglah impianku sedari dulu.


Menulis, meramu kata, mencipta sebuah kisah fiksi, membuatku merasa lebih berdaya. Setidaknya, aku bisa menuangkan ide dan  meluruhkan semua beban hatiku  dengan menuangkannya kedalam tulisan. Kuyakin orang yang tak memiliki impian sama tak kan bisa merasakan dampak postif dari menulis itu sendiri. Itu  terbukti dengan adanya beberapa komentar orang-orang di sekelilngku saat mendapatiku sedang menulis.



“Untuk apa berlama-lama di depan komputer? Untuk menulis?, apa yang kau tulis? Apa yang nanti bisa kau peroleh dari itu.? Uang, Seberapa besarkah? Apa itu sebanding dengan usahamu? Apa itu tidak akan sia-sia?  “ deretan tanya yang tak ku jawab. 


Untuk kesekian kali aku kembali tersenyum saja menanggapinya. Bisakah untuk tidak berpikir pragmatis dan mengukur segala sesuatu dari materi saja?. :)
 

Aku ingin membangun passion yang lain dalam diriku. Aku ingin mencoba dan menekuri sebuah aktivitas yang berbeda. Jika dulu, setelah lulus Madrasah Aliyah aku  lebih memilih untuk belajar berdagang di Jakarta, itulah pilihan. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang kudapat dari sana. Dan ketika aku pulang ke Pulau Garam, lalu tak ingin  kembali lagi ke kota metropolitan dan memilih untuk stay at home, ini juga pilihan. Dan pilihanku yang kedua bukanlah tanpa resiko.  Ada tanya yang kerap kudapati.


Kenapa pulang? bukankah Jakarta dan posisimu sudah sangat menjanjikan untuk mencapai kesuksesan?, Kau tinggal menunggu waktu saja dan menerapkan pengetahuan yang kau dapat dengan membangun usaha baru sendiri? Tidakkah kau menyayangkannya?


Ok. Aku tahu itu :)


Kini,  aku memiliki jundi  yang tidak bisa kutinggal selalu. Dia butuh cinta, butuh kasih sayang. Tidak adil rasanya meninggalkan dia dalam waktu yang lama atas nama untuk materi. Meteri penting, tapi jika kemudian perpisahanku dengannya memenyebabkan hatinya tidak bahagia dan dia  kurang kasih sayang seorang ibu, itu akan membuatku merasa sangat bersalah..


Dia, anakku, adalah harta termahal yang Allah berikan padaku. Tidak semua orang bisa mendapat anugerah itu dari Sang Maha Pencipta. Dia juga merupakan amanah yang harus kuemban . Untuk itu, aku harus bisa menyeimbangkan diri, antara pekerjaan dan tanggung jawab  seorang Ayah sekaligus Ibu. Aku ingin tetap menulis, apapun yang menjadi komentar mereka. Aku akan tetap dengan mimpiku, seberapa beratpun rintangan yang akan ku hadapi.


So, tetap tenang, tetap semangat, tetap bertahan…. ! Yakinkan diri, garis sukses di jalur ini, suatu hari nanti akan bisa dilewati. Insya Allah…!